Mengapa dalam Bahasa Jawa 25 Disebut Selawe, 50 = Seket, dan 60 = Sewidak? Ternyata Ini Filosofinya

Posted on

Terkadang dalam bahasa Jawa ada penamaan-penamaan aneh yang disebut masyarakat. Salah satunya adalah pola penamaan bilangan yang berbeda-beda. Pernahkah sebagai masyarakat Jawa bertanya mengapa jika dua puluh dalam bahasa Jawa disebut rongpuluh.

Namun giliran hitungan dua puluh satu bahasa Jawanya selikur. Contoh lainnya juga ada di angka dua puluh lima yang malah disebut selawe bukan rongpuluh limo. Ada lagi bilangan lima puluh yang malah disebut seket bukannya limang puluh.

Kemudian bilangan enam puluh yang justru disebut sewidak atau suwidak. Padahal angka seterusnya disebut pitung puluh (70), wolung puluh (80), sanga puluh (90). Ternyata hal-hal aneh di atas ada filosofi dan penjelasannya yang diyakini masyarakat Jawa.

Bahkan hal itu sebenarnya terkait dengan umur manusia di dunia ini. Berikut penjelasannya yang Okezones.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (28/12):

 

1. 21 disebut selikur dan seterusnya hingga 29 disebut songo likur.

Likur di sini diyakini memiliki makna Lingguh kursi (likur). Filosofinya di usia 21-29 manusia mulai tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di usia ini pula manusia mulai mendapatkan tempat duduk dalam artian pekerjaannya, kedudukan, atau profesi.

 

2. 25 disebut selawe

SELAWE bisa diartikan SEneng-senenge LAnang lan WEdok (Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan). Hal ini biasanya ditandai dengan pernikahan. Mayoritas di usia seperempat abad masyarakat sudah berpikir untuk menikah.

 

3. 50 disebut seket

SEKET (SEneng KEthonan) artinya senang memakai kethu/tutup kepala topi/kopiah). Di usia separuh abad, manusia biasa mengenakan penutup kepala untuk menutupi kebotakan atau rambut putih di kepalanya. Sedangkan kopiah diyakini bermakna sebagai pengingat manusia untuk lebih taat beribadah di usia 50 tahunan.

 

4. 60 disebut suwidak atau sewidak

Sewidak di sini diyakini memiliki makna SEjatine WIs wayahe Tindak. Artinya usia yang pantas untuk pergi menghadap Tuhan. Rentang manusia meninggal umumnya memang usia 60 tahunan. Maka hal ini bisa jadi pengingat agar manusia tetap mengingat Tuhannya karena sesungguhnya usia itu terbatas, meski maut adalah kehendak yang Maha Kuasa.

Memang belum ada litaratur resmi soal penamaan bilangan pada Bahasa Jawa ini. Atau apakah memang penamaan bilangan ini merupakan fakta atau sekadar ‘cocok-cocokan.’ Namun demikian banyak yang meyakininya, sekaligus menjadikannya sebagai pedoman untuk meniti kehidupan.